Sejarah Museum La Galigo

Museum sebagai wadah pelestarian menampakkan dinamika manusia dalam proses penciptaan, peradaban dan kebudayaan, dan tentu saja keberadaan museum adalah untuk kepentingan generasi kini dan setiap generasi yang akan datang, artinya benda bernilai yang di pamerkan di museum untuk generasi sekarang dan juga pada saatnya untuk generasi yang akan datang (Gonggong, 2006 : 27).

Ketertarikan masyarakat terhadap museum mula-mula terjadi di Eropa karena museum mengisi koleksinya dengan barang yang eksotik milik raja. Kemudian museum berkembang di negara-negara lain, seperti di Indonesia upaya pendirian museum telah dilakukan sejak abad ke-17, diawali oleh seorang pegawai VOC yang bernama G.E. Rumphius. Memasuki abad ke-18, baik pada masa VOC maupun Hindia-Belanda telah didirikan suatu lembaga antara lain Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada tanggal 24 April 1778.

Perkembangan museum kemudian merambah ke daerah-daerah, khusus Sulawesi Selatan awal kehadiran museum mulai pada tahun 1938 yaitu dengan didirikannya Celebes Museum oleh pemerintah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda) di Kota Makassar. Museum pertama ini menggunakan salah satu ruangan/bangunan dalam kompleks Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam) yaitu tempat kediaman Gubernur Belanda yang menempati gedung 13.

Menjelang kedatangan Jepang di Kota Makassar Celebes Museum telah menggunakan tiga buah gedung, selain dari gedung pertama, dua gedung tambahan ialah gedung No. 8 dan No. 5 memuat beberapa koleksi peralatan permainan rakyat seperti taji untuk menyabung ayam, alat-alat keperluan rumah tangga seperti alat perlengkapan dapur, periuk, dll., alat-alat kesenian seperti kecapi, genrang bulo, puik-puik, dsb.

Pada masa Jepang kegiatan museum terhenti sama sekali, kegiatan museum baru terwujud pada tahun 1962 atas inisiatif Kepala Inspeksi Kebudayaan Daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara Abdul Rahim Mone, disertai dukungan Pemerintah Daerah dan beberapa budayawan Sulawesi Selatan. Museum ditempatkan pada bangunan No.3, koleksi awalnya berasal dari sumbangan beberapa budayawan antara lain berupa mata uang kuno, gelang perak, pakaian adat pengantin, keris, badik dan beberapa koleksi Yayasan Mathes, Yayasan Pusat Kebudayaan Indonesia Timur, dan milik Inspeksi Kebudayaan Daerah Sulawesi Tenggara.

Setelah berjalan selama delapan tahun, museum yang berstatus persiapan, diresmikan sebagai Museum Daerah dengan nama Museum La Galigo berdasarkan SK Gubernur Sulawesi Selatan No. 182/V/1970, tanggal 1 Mei 1970, koleksinya kurang lebih 50 buah. Pada Tanggal 24 Pebruari 1974, Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan meresmikan bangunan No. 5 dalam Kompleks Benteng Ujung Pandang sebagai Ruang Pameran Tetap Museum La Galigo. Kemudian pada tanggal 28 Mei 1979, diresmikan sebagai Museum La Galigo Propinsi Sulawesi Selatan dengan SK. Mendikbud No : 093/0/1979.

Pada tahun 1988 Direktur Jenderal Kebudayaan melalui Direktur Permuseuman Jakarta mengeluarkan keputusan tentang penyeragaman nama museum negeri tingkat propinsi seluruh Indonesia yaitu mendahulukan nama propinsi, masing-masing kemudian nama koleksinya, sehingga Museum La Galigo diubah menjadi Museum negeri Propinsi Sulawesi Selatan.

Selanjutnya dengan Surat Keputusan Gubernur Propinsi Sulawesi Selatan dengan No. 166 Tahun 2001 berubah menjadi UPTD Museum La Galigo Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Sulawesi Selatan.

La Galigo dijadikan sebagai nama museum di Propinsi Sulawesi Selatan, dengan beberapa pertimbangan sbb. :

  1. Nama seorang Tokoh Budayawan/Sastrawan dan Negarawan pada masa periode klasik masyarakat Sulawesi Selatan.
  2. Nama dari sebuah karya sastra klasik yang di dalamnya mengungkapkan mengenai berbagai segi kehidupan sosial budaya masyarakat Sulawesi Selatan.

Ruang Pameran Tetap Gedung M

GedungM

Ruang Pameran Tetap Gedung D

GedungD